tovicraharja™

Catatan Yang Singkat-singkat Saja

Uninvited guest in Fashion Tendance 2010

with 2 comments

Photo added by: Mira Asriningtyas

Tovic Raharja : OMG! ada media gadungan, sok serius pula. huakakakaka “D

Mira Asriningtyas : wahahahahaha..

DreaMiy the Picnic Girl: dari media apa, mas?

Media Gadungan: I**A

DMPC: Lho,emang I**A ada media (fashion) nya ya?

*****

(dan teman saya dari media yg sebenar-benarnya sempat diragukan security dan nyaris terusir dari front-row yang oh-my-god kita itu) hihihi..

Tovic Raharja : aku tak ingin bernasib sama dengan Novi Ristyanie, harus beradu argumen sama security.

id-card media udah tergantung di leher temenku satu lagi. alhasil aku musti sedikit behave layaknya reporter dan juga pemerhati fesyen.

padahal tau ga obrolannya dengan temen sebelahku “eh mbak yang nomor tiga dari depan cantik” huakakakaka

Mira Asriningtyas : huahahahaha.. boys!

(petikan komen sebuah foto di facebook yang di-tag oleh salah seorang teman yang bertemu di acara malam itu)

Warna-warna pucat mewakili gambaran pribadi-pribadi kurang sehat, seperti itulah kira-kira yang ingin disampaikan Afif Syakur melalui karya batik rancangannya pada Fashion Tendance 2010. Setidaknya ide semacam ini yang menarik perhatian saya selama hampir satusetengah jam perhelatan fesyen yang menampilkan empatbelas desainer tersohor di kota ini. Masing-masing desainer menampilkan delapan karya rancangannya. Tentu saja selain gadis-gadis cantik dengan tubuh tipis, tinggi semampai dan kaki-kaki jenjangnya. Suasana seperti inilah yang tergambar apabila keempatbelas desainer Yogya berkumpul. Fashion show sebagai sebuah ruang apresiasi dan interaksi.

Gagasan kreatif semacam itu yang menjadi minat saya untuk betah berlama-lama menyaksikan pagelaran fashion show. Bagaimana seorang Mia Ridwan terinspirasi dari masalah-masalah yang datang seperti bunga rampai dan akan menjadi indah apabila berhasil diatasi. Lain halnya dengan Ninik Darmawan yang mengambil ide dari kerusakan alam. Melalui karya rancangannya Ninik Dharmawan mengajak kita untuk lebih dekat dengan alam. Wanita-wanita pekerja keras dengan kesuraman dan keprihatinannya menginspirasi Lia Mustafa. Berbeda lagi dengan Amin Hendra Wijaya yang terinspirasi dari orang-orang imigran yang memimpikan segala hal untuk menjadi orang kaya, wanita cantik bak ratu atau dewi. Serta beberapa desiner lainnya yang mengangkat tema cross culture, busana dengan inspirasi gaya rancangan lintas budaya, budaya Barat berpadu dengan Timur.

Malam itu saya tidak mewakili dari media manapun, saya juga bukan praktisi fesyen, bukan pula pemerhati atau kritikus fesyen. Saya adalah seorang tamu yang (sebenarnya)tidak ada dalam daftar tamu undangan. Tapi saya berhasil lolos dari pintu penjagaan security dengan penuh perjuangan dan akal-akalan bulus. Alhasil saya menempati bangku paling depan bersanding beberapa rekan media.  Apresiasi saya masih sangat luar biasa untuk desainer-desainer Yogya. Karya-karya rancangan Indraty Setiawan, Wiwin Fitriana dan Alma Riva menjadi favorit saya. Desain yang sederhana dengan penempatan detail di beberapa bagian menurut saya adalah hal yang paling unik. Terima kasih untuk Anggityas Sekarkinasih Putri sudah mengajak saya gabung di acara malam itu. [t~]

Written by tovic raharja

20 November 2009 at 7:07 am

Ditulis dalam dear diary

Angel’s Diary, Angin Segar Program Televisi Kita

with one comment

92__320x240_angels-diary-1

Bukan cerita yang luar biasa, masih berkisah tentang cinta anak muda. Tapi gambar-gambar indah yang disajikan Angel’s Diary, serial tv terbaru yang tayang di Trans TV sempat membuat saya memutuskan untuk tidak beranjak dari depan layar kaca kurang lebih 30 menit di episodenya yang ke 8. Gambar yang disuguhkan mengingatkan saya pada ARISAN the series, sebuah produksi berseri yang melanjutkan kesuksesan versi layar lebarnya. Angin segar untuk program televisi kita.

Seperti inilah seharusnya sinetron Indonesia diproduksi. Hiburan di layar kaca yang tidak saja didominasi oleh sinetron striping yang dari segi cerita (dan visual) yang kurang menarik. Bisa jadi penilaian saya ini masih bersifat subyektif. Tapi terkadang harapan seperti itu menjadi semakin berjarak dengan kenyataan bahwa sinetron striping di Indonesia banyak diproduksi untuk mempertahankan ratingnya. Atau memang cukup sampai di situ saja apresiasi masyarakat penontonnya. Dan sebaliknya justru tayangan yang berkualitas harus terbentur pada rating dan biaya produksi yang tinggi. Akibatnya iklan yang masuk minim dan biaya produksi lebih besar.

Faktanya ARISAN the series atau Angel’s Diary memang lebih unggul dibandingkan dari jenis-jenis sinetron yang menjamur di Indonesia. Gambar-gambar indah yang membuat serial ini tampak lebih hidup dan alur serta editing yang dinamis. Meski sebenarnya Angel’s Diary hanya bercerita tentang seorang gadis yang bernama Angel yang diperankan oleh Angelica Faustina,gadis 19 tahun dengan sifat cuek, cool, egois dan percaya diri namun tetap sederhana menjalani hari-harinya dengan adaptasi kultur yang berbeda dari Australia. Pada episode ke 8 diceritakan Angel jatuh cinta dengan Satria (Dimas Aditya), tapi  justru Ryan (Kiki Rizky) yang lebih dulu menembaknya.

Sebenarnya serial seperti ini tidak perlu terlalu panjang durasi dan episodenya. Hanya saja produksi serial-serial tv serupa dengan kualitas yang sama bisa memberi penyegaran untuk hiburan di layar kaca yang sudah didominasi oleh sinetron stripping dan (un)reality show. [t~]

Written by tovic raharja

4 November 2009 at 4:21 am

Ditulis dalam dear diary

iClick.IVAA Launching of Online Archive & Multimedia Data Exhibition

tinggalkan komentar »

iClick.IVAA
Launching of Online Archive & Multimedia Data Exhibition
Galeri Nasional Indonesia Hall C
19 – 26 Agustus 2009

Indonesian Visual Art Archive (IVAA) icon iclickadalah lembaga nirlaba yang berbasis di Yogyakarta, yang didirikan tahun 1995 awalnya dengan nama Yayasan Seni Cemeti (sampai April 2007). Bidang utama kami adalah dokumentasi, riset, perpustakaan serta penyelenggaraan program edukasi dan eksplorasi seni visual. Dengan ini IVAA juga berfungsi sebagai sebuah think-tank atau laboratorium kreatif untuk menggagas berbagai pemikiran serta kegiatan yang mendukung perkembangan seni visual dan budaya kontemporer, baik secara praktek mau pun wacana.

Sejak 2008, IVAA membangun Pusat Informasi Digital IVAA, yang menampung seluruh koleksi arsip IVAA  dalam format digital. Tujuannya yang utama adalah untuk preservasi data tersebut, menyimpannya ke jaringan online, membuat sistem baru klasifikasi data IVAA serta meningkatkan kemudahan aksesibilitas dan pemanfaatan data IVAA bagi publik.

Satu program yang dibangun adalah IVAA Online Archive, yaitu Arsip Online IVAA yang menampung seluruh koleksi dokumentasi IVAA di jaringan internet. Tahap I pembangunan Arsip Online ini sekarang telah rampung dan siap diluncurkan untuk diakses oleh publik, dengan alamat web: http://ivaa-online.org/archive.

Oleh karena itu, kami akan menyelenggarakan peluncuran dari Arsip Online ini yang diiringi dengan pameran data multimedia, yang akan diselenggarakan di Galeri Nasional Indonesia, Hall C, 19 Agustus sampai 26 Agustus 2009.

Bersama itu, kami mengundang rekan-rekan untuk menghadiri acara ini yang diselenggarakan sebagai berikut:

Tanggal: 19 Agustus 2009
Tempat: Galeri Nasional Indonesia Hall C,  Jl. Medan Merdeka Timur No. 14. Jakarta 10110, Indonesia.
Waktu: pk. 19.30 WIB – selesai

Tersedia makan malam dan snack. Sampai jumpa 19 Agustus dan persiapkan untuk meng-klik link http://ivaa-online.org/archive !

Contact persons:
Farah Wardani & Christy Mahanani, email: program@ivaa-online.org

Pameran akan berlangsung dari 19-26 Agustus 2009.

Program IVAA Digital Information Center & Online Archive merupakan kerjasama IVAA dengan Ford Foundation dan Hivos Regional Southeast Asia, acara peluncuran ini juga didukung oleh Yayasan Seni Rupa Indonesia dan Museum Oei Hong Djien.

Written by tovic raharja

14 Agustus 2009 at 9:56 am

Ditulis dalam dear diary

IVAA OPEN HOUSE 2

tinggalkan komentar »

IVAA OPEN HOUSE 2

/Launching Pusat Informasi Digital IVAA (On Site)

/Presentasi & Preview Arsip Online IVAA

/BINTANG TAMU:’Oleh-Oleh Ria dari Korea’ (Performance & Talk – Maria Tri Sulistyani – Papermoon Puppet Theatre)

tovicraharjaopenhouse

Salam sejahtera dari Patehan Tengah 37, Yogya!

Indonesian Visual Art Archive (IVAA) adalah sebuah lembaga nirlaba yang berbasis di Yogyakarta, yang didirikan tahun 1995 awalnya dengan nama Yayasan Seni Cemeti (sampai April 2007). Bidang utama kami adalah dokumentasi, riset, perpustakaan serta penyelenggaraan program edukasi dan eksplorasi seni visual. Dengan ini IVAA juga berfungsi sebagai sebuah think-tank atau laboratorium kreatif untuk menggagas berbagai pemikiran serta kegiatan yang mendukung perkembangan seni visual dan budaya kontemporer, baik secara praktek mau pun wacana. Baca entri selengkapnya »

Written by tovic raharja

26 Juni 2009 at 3:25 am

Ditulis dalam dear diary

‘Perjalanan’ yang luar biasa hebat bersama Papermoon

with 8 comments

papermoonBoneka-boneka itu mampu menghipnotis penonton semalam. Sekeluar dari ruang pertunjukkan, penonton tidak lagi dapat berbicara wajar. Mereka berbincang ala tarzan, ala dialog boneka, tanpa lafal, tanpa arti, berupa intonasi tapi mampu dimengerti maksudnya.

Itulah oleh-oleh selama satu jam “perjalanan” kami menonton pentas teater boneka “on a journey” yang dipentaskan Rabu malam (3/12) di ruang pertunjukkan gedung Sosietet kompleks Taman Budaya Yogyakarta oleh sekelompok teater yang menggunakan medium boneka untuk menampilkan karakter tokohnya, mereka menamakan dirinya Papermoon.

Sebelum masuk ke gedung itu saya sudah disambut boneka bungkuk sedang duduk di anak tangga jalan menuju ke selasar gedung. Boneka itu tidak lebih tinggi dari manusia biasa, tubuhnya kerdil dan bulat. Berbicara dengan bahasa yang tidak dapat saya pahami, tapi saya mengerti, ia sedang meminta-minta.

Di dalam berbaur bersama pengunjung yang sedang membeli tiket, sepasang boneka asongan menjajakan dagangannya kepada calon-calon penonton. Ada interaksi antara manusia dan boneka, masih tetap dengan bahasa yang tidak saya tahu artinya, tapi saya bisa mengerti. Intonasinya seperti pedagang asongan yang kerap saya temui di gerbang-gerbang kereta “akua akua akua mijon mijon mijon”, mungkin kira-kira seperti itu.

Masuk ke dalam ruang pertunjukkan, pertunjukkan belum mulai ‘seekor’ boneka kuda berwarna hijau dan jokinya setinggi kuda balap sungguhan tampak jalan mondar-mandir di ruang kosong di depan penonton. Kemunculan beberapa karakter boneka di awal sebelum pertunjukkan dimulai saya pikir merupakan bagian dari pertunjukkan keseluruhan malam itu.

Suara perempuan itu lembut, mengantarkan penonton seolah sedang berada di sebuah awal perjalanan sungguhan. Lampu kemudian padam.

Jalinan cerita yang sederhana, tapi dengan penggarapan detil boneka seperti itu saya tidak bisa mengatakannya sederhana. Butuh proses panjang dan kerja keras dalam menghidupkan karakter boneka, dengan ekspresi wajah yang cenderung sama seolah-olah penonton diajak berimajinasi membaca mimik boneka. Settingnya minimalis, sebuah gerbong kereta. Tapi sekali lagi minimalis itu tidak lagi sederhana. Menghidupkan suasana seolah dalam gerbong kereta sungguhan yang di dalamnya ada banyak ativitas yang dilakukan oleh para boneka.

Seorang tokoh laki-laki tua dengan koper dan selendang milik kekasihnya, seorang tokoh pengemis tua bungkuk ^yang menyambut kami di pintu masuk selasar gedung^, seorang tengkorak dan bayi tengkorak, tokoh wanita hamil ^istri si joki kuda^ yang ditemani keranjang anjing kesayangannya, tokoh pengamen, pedagang asongan, petugas pemeriksa tiket, semuanya merupakan tokoh sentral dalam ‘perjalanan’ malam itu.

Tidak ada bahasa yang sedikitpun kami tahu artinya, tapi kami mampu paham maksud dialog mereka. Hanya saja, secara teknis pencahayaan yang perlu diperhatian dengan setting panggung sebesar itu. Karena seolah penonton harus membagi fokus, antara melihat karakter boneka, ato ekspresi si manusia yang menghidupkan karakter boneka. Dan lagi kostum pelaku-pelaku peran ini dengan memakai kaos hitam lengan pendek menjadikan boneka itu tidak lagi seperti hidup sendiri. Mereka seperti dihidupkan oleh manusia ^meski memang seharusnya seperti itu^ tapi pikiran logis yang seharusnya ditutup untuk menikmati alur cerita dengan imajinasi jadi kabur. Saya tidak tahu apakah ada unsur kesengajaan di dalamnya.

Dan lagi, dengan bahasa ‘dialog ala tarzan’ seharusnya ada perbedaan produksi suara dari masing-masing karakter. Sehingga penonton dapat membedakan karakter masing-masing tokoh dan membantu memahami dialognya. Dalam sebuah dialog yang melibatkan banyak karakter seperti suasana gempar karena semua barang bawaan raib di dalam kereta jadi terasa flat.

Tapi selebihnya acung dua jempol untuk kerja keras Papermoon membawa kami ke dalam sebuah ‘perjalanan’ yang luar biasa hebat. Nikmati ‘perjalanan’ mu sendiri, nikmati virus ‘dialog ala boneka’ dan tuliskan sendiri testimoni tentang perjalananmu. (jadual pementasan Kamis 4/12 dan Jumat 5/12 jam 20.00) [t~]

Written by tovic raharja

4 Desember 2008 at 7:45 am

Ditulis dalam agenda

Ditandai dengan