tovicraharja™

Catatan Yang Singkat-singkat Saja

‘Perjalanan’ yang luar biasa hebat bersama Papermoon

with 8 comments

papermoonBoneka-boneka itu mampu menghipnotis penonton semalam. Sekeluar dari ruang pertunjukkan, penonton tidak lagi dapat berbicara wajar. Mereka berbincang ala tarzan, ala dialog boneka, tanpa lafal, tanpa arti, berupa intonasi tapi mampu dimengerti maksudnya.

Itulah oleh-oleh selama satu jam “perjalanan” kami menonton pentas teater boneka “on a journey” yang dipentaskan Rabu malam (3/12) di ruang pertunjukkan gedung Sosietet kompleks Taman Budaya Yogyakarta oleh sekelompok teater yang menggunakan medium boneka untuk menampilkan karakter tokohnya, mereka menamakan dirinya Papermoon.

Sebelum masuk ke gedung itu saya sudah disambut boneka bungkuk sedang duduk di anak tangga jalan menuju ke selasar gedung. Boneka itu tidak lebih tinggi dari manusia biasa, tubuhnya kerdil dan bulat. Berbicara dengan bahasa yang tidak dapat saya pahami, tapi saya mengerti, ia sedang meminta-minta.

Di dalam berbaur bersama pengunjung yang sedang membeli tiket, sepasang boneka asongan menjajakan dagangannya kepada calon-calon penonton. Ada interaksi antara manusia dan boneka, masih tetap dengan bahasa yang tidak saya tahu artinya, tapi saya bisa mengerti. Intonasinya seperti pedagang asongan yang kerap saya temui di gerbang-gerbang kereta “akua akua akua mijon mijon mijon”, mungkin kira-kira seperti itu.

Masuk ke dalam ruang pertunjukkan, pertunjukkan belum mulai ‘seekor’ boneka kuda berwarna hijau dan jokinya setinggi kuda balap sungguhan tampak jalan mondar-mandir di ruang kosong di depan penonton. Kemunculan beberapa karakter boneka di awal sebelum pertunjukkan dimulai saya pikir merupakan bagian dari pertunjukkan keseluruhan malam itu.

Suara perempuan itu lembut, mengantarkan penonton seolah sedang berada di sebuah awal perjalanan sungguhan. Lampu kemudian padam.

Jalinan cerita yang sederhana, tapi dengan penggarapan detil boneka seperti itu saya tidak bisa mengatakannya sederhana. Butuh proses panjang dan kerja keras dalam menghidupkan karakter boneka, dengan ekspresi wajah yang cenderung sama seolah-olah penonton diajak berimajinasi membaca mimik boneka. Settingnya minimalis, sebuah gerbong kereta. Tapi sekali lagi minimalis itu tidak lagi sederhana. Menghidupkan suasana seolah dalam gerbong kereta sungguhan yang di dalamnya ada banyak ativitas yang dilakukan oleh para boneka.

Seorang tokoh laki-laki tua dengan koper dan selendang milik kekasihnya, seorang tokoh pengemis tua bungkuk ^yang menyambut kami di pintu masuk selasar gedung^, seorang tengkorak dan bayi tengkorak, tokoh wanita hamil ^istri si joki kuda^ yang ditemani keranjang anjing kesayangannya, tokoh pengamen, pedagang asongan, petugas pemeriksa tiket, semuanya merupakan tokoh sentral dalam ‘perjalanan’ malam itu.

Tidak ada bahasa yang sedikitpun kami tahu artinya, tapi kami mampu paham maksud dialog mereka. Hanya saja, secara teknis pencahayaan yang perlu diperhatian dengan setting panggung sebesar itu. Karena seolah penonton harus membagi fokus, antara melihat karakter boneka, ato ekspresi si manusia yang menghidupkan karakter boneka. Dan lagi kostum pelaku-pelaku peran ini dengan memakai kaos hitam lengan pendek menjadikan boneka itu tidak lagi seperti hidup sendiri. Mereka seperti dihidupkan oleh manusia ^meski memang seharusnya seperti itu^ tapi pikiran logis yang seharusnya ditutup untuk menikmati alur cerita dengan imajinasi jadi kabur. Saya tidak tahu apakah ada unsur kesengajaan di dalamnya.

Dan lagi, dengan bahasa ‘dialog ala tarzan’ seharusnya ada perbedaan produksi suara dari masing-masing karakter. Sehingga penonton dapat membedakan karakter masing-masing tokoh dan membantu memahami dialognya. Dalam sebuah dialog yang melibatkan banyak karakter seperti suasana gempar karena semua barang bawaan raib di dalam kereta jadi terasa flat.

Tapi selebihnya acung dua jempol untuk kerja keras Papermoon membawa kami ke dalam sebuah ‘perjalanan’ yang luar biasa hebat. Nikmati ‘perjalanan’ mu sendiri, nikmati virus ‘dialog ala boneka’ dan tuliskan sendiri testimoni tentang perjalananmu. (jadual pementasan Kamis 4/12 dan Jumat 5/12 jam 20.00) [t~]

Written by tovic raharja

4 Desember 2008 pada 7:45 am

Ditulis dalam agenda

Ditandai dengan

8 Tanggapan

Subscribe to comments with RSS.

  1. kmrn tuh pengen ikut vic nonton..cuma ada ngaji gt deh..hehe..

    masih ada hari kedua dan ketiga kalo mau nonton, sayang untuk dilewatkan

    fickry

    4 Desember 2008 at 8:29 am

  2. salam kenal pak!

    *penasaran pengen nonton.
    hehe..

    pastikan perjalanan anda terhibur bersama mereka,, salam kenal juga mas wahyu. nice blog

    wahyu

    4 Desember 2008 at 2:15 pm

  3. pengen nonton..
    penasaran euy…
    ~_~

    ayo ky, nonton. nikmati dua perjalanan sekaligus. perjalanan ke yogya dan ‘perjalanan’ bersama papermoon

    'ky

    5 Desember 2008 at 4:15 am

  4. tulisan yang menarik ayo menulis lagi :)

    makasih mas bagus, sedang mencoba membangkitkan geliat untuk menulis lagi

    bagus

    5 Desember 2008 at 4:17 am

  5. ia ni,

    maklum saya di palembang !
    jarang teater gitu..
    hikss

    sayang sekali bro, semoga tuh boneka ada kesempatan buat dipentaskan di palembang hehe

    wahyu

    5 Desember 2008 at 2:40 pm

  6. walah………………………………km ko ga ajak2 aku lo nonton papermoon!! kapan2 ajak aku yo!!!!!!!!

    beres bro, maafkan aku melupakanmu. aku pergi sama diajengku. kira2 kapan yo ada lagi hihi

    arciana

    6 Desember 2008 at 6:18 am

  7. Find out and display google pagerank for your website. Jogjalab Pagerank Checker

    pagerank checker

    9 Februari 2009 at 12:36 pm

  8. makasi ya viiicc
    tulisannya yak sip..
    semoga papermoon bisa nyajiij yang lebih yahut lagi ke depannya !!!

    ria papermoon

    29 Mei 2009 at 6:14 am


Tinggalkan Balasan